Siapakah Orang Musyrik Itu ?

0 komentar,
Oleh: Al Ustadz Al Asiir Abu Sulaiman hafidzahullah
Pernah ada seorang laki-laki datang bertanya kepada Rasulullah saw tentang ayahnya yang meninggal pada zaman fatrah (zaman ketika tidak ada dakwah) di atas ajaran syirik, maka Rasulullah menjawab: “Ayahmu di neraka”, mendengar jawaban itu si laki-laki mukanya merah, dan ketika dia berpaling, Rasulullah saw memanggilnya dan mengatakan kepadanya: “Ayahku dan ayahmu di neraka.” (HR. Muslim)

"Kufrun Duna Kufrin" Fenomena Pengkaburan Haq dengan Kebatilan

0 komentar,
Oleh: Syaikh Abdul Azis Ibnu Nashir Al Julayyil
Berdalih Atas Keabsahan undang-undang yang mengganti syari’at Allah dan atas penghalalan apa yang diharamkan Allah dengan atsar dari salaf ”kufrun duna kufrin”.
Ini Demi Allah adalah pentahrifan/pengkaburan dalil dari keadaan yang selayaknya, dan menempatkan hukum bukan pada tempatnya serta berdusta (mengada-ada) dan aniaya terhadap Habrul Ummah Turjumanul Qur’an (Ibnu Abbas) dan terhadap generasi terbaik umat ini. Mereka (salaf ini) tidak berbicara tentang masa kita ini dan mereka sama sekali tidak memaksudkan undang-undang pengganti syari’at Allah (sekarang ini). Hanya kepada Allah-lah tempat meminta pertolongan dan hanya kepada-Nyalah tempat mengadu.

Bantahan Atas Fatwa Bin Baz yang Sesat dan Menyesatkan

0 komentar,
Oleh: Asy Syaikh Al Mujahid Abdul Qadir Abdul AzizFakallahu ‘Asrah
…Saya menyebutkan faidah ini dengan sebab fatwa salah satu Syaikh masa sekarang yang telah saya baca, yaitu Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz, dimana didalamnya ia membolehkan bagi orang muslim mencalonkan diri untuk menjadi anggota Parlemen Legislatif di negara-negara yang dihukumi dengan Qawanin Wadli’iyyah dengan niat dakwah ilallah di parlemen-parlemen ini dan yang serupa dengannya. Dan dia berdalil dengan hadits: “Sesungguhnya amalan itu tergantung niat”. Sungguh telah ada dalam majalah Liwaa-ul Islam, Vol.11/ 1409 H, hal: 7 dimulhaq ucapan berikut ini: [Tidak apa-apa bergabung dengan Majelis Rakyat] sebagai jawaban terhadap pertanyaan tentang keabsahan pencalonan diri untuk Majelis Rakyat, dan Hukum Islam tentang pencoblosan kartu suara pemilu dengan niat memilih para du’at ikhwan yang beragama dengan baik untuk majelis itu, maka Syaikh Abdul Aziz Bin Baz memfatwakan dengan ucapannya: [sesungguhnya Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam berkata: “Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan bagi setiap orang itu adalah apa yang dia niatkan” Oleh sebab itu tidak apa-apa bergabung dengan Majelis Rakyat bila maksud dari hal itu adalah dukungan terhadap Al Haq dan tidak menyetujui terhadap kebathilan, karena dalam hal itu terdapat pembelaan kebenaran dan kebergabungan kepada du’at ilallah sebagaimana tidak apa-apa pula memberikan suara yang dengannya ia memilih para du’at yang shaleh serta mendukung Al Haq dan para pemeluknya. Wallahu Waliyyul Taufiq.]Bantahan Terhadap Fatwa Ibnu Baz Yang Sesat Lagi Menyesatkan Karena Dibangun Diatas Kejahilan Terhadap Realita Demokrasi & Kekafiran Orang Yang Masuk Majelis Syirik Demokrasi Demi Mashlahat Dakwah

Bahaya Firqah Jamiyyah Madkhaliyyah (Bagian Satu)

0 komentar,
Oleh: Asy Syaikh Al Mujahid Abu Muhammad Al Maqdisiy hafidzahullah
Mereka sebagaimana yang telah kami katakan adalah Khawarij terhadap du’at yang menentang para thaghut kekafiran dan para penguasa zaman sekarang secara umum dan para thaghut dinasti Saud secara khusus. Mereka melancarkan serangannya dan memfokuskannya dengan segenap kemampuan secara khusus terhadap setiap dai’ atau mujahid atau orang alim atau penulis yang menghadang para penguasa kafir walaupun dengan lisan, dimana mereka tidak menjaga padanya tali kekeluargaan dan perjanjian dan mereka tidak mengudzurnya dengan sebab kekeliruan atau takwil, diwaktu yang sama mereka mengada-adakan berbagai alasan dan berbagai alasan serta berbagai alasan bagi para thaghut kekafiran dalam setiap apa yang mereka lakukan berupa kesyirikan yang nyata, kekafiran yang terang dan kemurtaddan yang berlapis-lapis.Dan upaya mereka dalam menfitnah terhadap para du’at dan membuat laporan tentang mereka kepada para thaghut adalah hal yang terbuka bagi setiap orang yang tidak mereka ingkari, bahkan sesungguhnya mereka itu karena kesesatan dan kezindikannya menilai perbuatannya sebagai qurbah (ibadah), perbuatan baik dan amal shalih yang dengannya mereka mendekatkan diri kepada Allah…!!!.

Bahaya Firqah Jamiyyah Madkhaliyyah (Bagian Dua)

0 komentar,
Oleh: Asy Syaikh Al Mujahid Abu Muhammad Al Maqdisiy hafidzahullah
Maka setelah pengagungan, penghormatan, pemulian dan pujian yang dilontarkan Al Madkhali bagi Syaikh Bakr Abu Zaid agar dia mendapatkan darinya dukungan dan pujian terhadap celaan-celaannya pada Sayyid. Engkau melihatnya mengatakan tentang Syaikh Bakr Abu Zaid –tatkala meleset dugaannya dan putus asa dari dukungannya serta sampai kepadanya surat ini-: “Sesungguhnya dia termasuk anshar berbagai bid’ah dan pengayomnya, dan dia membela ahli bid’ah dan kebatilan, serta hatinya sakit dengan hawa nafsu” (Al Nadhul Fashil Fir Raddi ‘Ala Bakr Abu Zaid) karya Robi’ Al Madkhlaliy hal 5 dan hal 98.Dengan hal ini selesailah pemaparan laporan salafiy intelejen untuk diserahkan langsung kepada Mendagri negara Islam terbesar dalam sejarah ini sang pendekar yang banyak pengalaman, yang hebat lagi disegani dan pemimpin yang penuh pengetahuan, serta ahli hadits yang kritis Fadlilatul Iman Al Akbar Nayef Ibnu Abdul Aziz, dan hiduplah salafiyyah Ahlul Wala. Dan saya memiliki beberapa poin penting terhadap laporan ini, saya ringkaskan bagi mereka:

Nestapa Kaum Muqallidin Dalam Syirik Dan Kekafirannya

0 komentar,
5 March 2007 • 18:05
Banyak orang-orang yang mengaku Islam di negeri ini ikut-ikutan dalam budaya syirik tumbal dan sesajian serta meminta pada orang yang sudah mati. Disisi lain, banyak orang dinegeri ini ikut-ikutan dalam pesta syirik demokrasi, padahal mereka mengetahui bahwa yang demikian itu adalah pelimpahan wewenang pembuatan hukum dan perundang-undangan kepada rakyat atau wakilnya yang disederhanakan dengan ungkapan mereka: Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat.

Membongkar Kemurtadan Demokrasi

0 komentar,
DEMOKRASI ADALAH MURTAD !
Sesungguhnya, Syariat bagi makhluk adalah hak mutlak ciptaan Allah semata yang tidak sah Tauhid seseorang kecuali dengan menTauhidkan-Nya dalam ciptaan-Nya, maka barangsiapa yang membuat syariat bagi manusia selain dari syariat Allah, maka sesungguhnya dia telah menjadikan dirinya sebagai tandingan [sekutu] bagi Allah di dalam ketuhanan-Nya dan peribadahan-Nya, dan juga berarti telah menjadikan dan mengangkat dirinya sebagia Tuhan bagi menusia selain Allah, maka dia telah kafir dengan perbuatannya itu. Sifat-sifat yang demikian Allah tegaskan sebagaimana ditunjukan dalam ayat-ayat-Nya, antara lain sebagai berikut :Berfirman Allah SWT. :
“Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah” ? [QS. Asy-Syura’: 21].